Benchmark batu bara
Bagaimana harga batu bara HBA bekerja
Indonesia menetapkan harga acuan batu bara termalnya sendiri setiap bulan. Berikut penjelasan tentang apa itu HBA, bagaimana angka ini disusun, dan mengapa ada tingkatannya.
Referensi · 6 menit baca
Harga Batubara Acuan (HBA) adalah angka yang diterbitkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk batu bara termal. Ini bukan pasar tempat orang bertransaksi. HBA adalah benchmark yang ditetapkan pemerintah pada spesifikasi kualitas tertentu, dan digunakan untuk menghitung royalti serta menjadi acuan aturan pasokan domestik.
Apa sebenarnya yang diukur HBA
Angka HBA utama dikutip untuk satu grade acuan: sekitar 6.322 kcal/kg atas dasar gross as received (GAR), dengan batas tertentu untuk kadar air, abu, dan sulfur. Menjaga spesifikasi tetap konstan adalah intinya. Dengan begitu pemerintah bisa membandingkan bulan ke bulan tanpa angka bergeser hanya karena sampel batu bara yang diambil kebetulan berkualitas lebih tinggi atau lebih rendah.
Komposisi HBA
HBA = 25% ICI + 25% Platts + 25% NEX + 25% GCNC
- ICI
- Indonesia Coal Index
- Platts
- Penilaian Platts Kalimantan 5,900
- NEX
- Newcastle Export Index (Australia)
- GCNC
- Indeks globalCOAL Newcastle
Setiap indeks disesuaikan ke spesifikasi acuan HBA sebelum dirata-ratakan. Bobot dan keranjang indeks telah berubah dari waktu ke waktu; anggap pembagian ini sebagai ilustrasi.
Bagaimana HBA ditetapkan setiap bulan
Ritme penetapannya sama pentingnya dengan rumusnya. Harga dikumpulkan selama bulan sebelumnya, dicampur ke grade acuan, lalu diterbitkan sebagai benchmark yang berlaku untuk bulan berikutnya.
- Langkah 1
Kumpulkan harga indeks
Indeks batu bara internasional dan domestik disampel sepanjang bulan sebelumnya.
- Langkah 2
Sesuaikan ke grade acuan
Setiap indeks dinormalisasi ke spesifikasi kualitas HBA agar dapat dibandingkan.
- Langkah 3
Rata-ratakan dan terbitkan
Rata-rata tertimbangnya menjadi HBA untuk periode berikutnya.
- Langkah 4
Royalti dan DMO mengikuti
HBA yang diterbitkan menjadi basis tarif royalti dan harga Domestic Market Obligation (DMO).
Mengapa ada tingkatan (tier)
Sebagian besar batu bara Indonesia bukan grade acuan. Kandungan energinya lebih rendah, sehingga satu benchmark saja kurang pas untuk menggambarkannya. Untuk menutup celah ini, kementerian juga menerbitkan tingkatan HBA yang dipatok ke pita kalori lebih rendah (seri HBA I, II, dan III yang dilacak di situs ini), masing-masing berpatokan pada acuan kcal/kg yang makin rendah. Perusahaan tambang yang mengapalkan batu bara berkalori rendah dihargai berdasarkan tier yang paling dekat dengan produknya, bukan grade utama.
Di mana dampaknya terasa
Dua kebijakan mengubah HBA dari sekadar statistik menjadi arus kas nyata. Royalti dipungut sebagai persentase dari harga yang diturunkan dari HBA, sehingga benchmark yang lebih tinggi menaikkan kewajiban perusahaan tambang kepada negara. Sementara Domestic Market Obligation mewajibkan produsen menjual sebagian output ke pasar domestik, dengan harga batu bara untuk pembangkit listrik dipatok jauh di bawah benchmark ekspor. Ketika HBA jauh di atas batas itu, selisih antara harga ekspor dan harga domestik itulah cerita sesungguhnya.
HBA adalah instrumen kebijakan yang menyamar sebagai harga. Bacalah selalu bersama batas DMO, jangan berdiri sendiri.